Sejarah Valentine
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah
dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama
Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara
ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi
agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity,
menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada
ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini
menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk
menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World
Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan
yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan
keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu
berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal
dari ritual Romawi kuno.
Sementara di dalam tatanan aqidah Islam,
seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik
agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku
tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang
Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu
agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal,
sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah
ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun
mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal
bersama.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang
haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap
berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan
valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan
semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam
diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should
Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal
dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha
Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta
orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang
menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar,
menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada
berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the
hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan
sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam
mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan
dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan
aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut
dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak
lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan
membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang
ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat
terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa
Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang
ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana
seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara
legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada
semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti
berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan
seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya,
semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang
merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis
dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa
hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah
zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan
zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya
sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu
bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan
hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami
distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah
penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan
seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang
juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini
bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk
pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang
dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak
untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di
barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah sybhanahu wa ta’ala
berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan
sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang
buruk. (QS Al
Isra’: 32)
Kasih Sayang Menurut Islam
Di dalam Islam tidak ada Valentine, sebab
kata Valentine itu merupakan istilah impor dari agama di luar Islam. Bahkan
latar belakang sejarah dan esensinya pun tidak sejalan dengan Islam.
Namun kalau yang anda inginkan adalah
perwujudan rasa kasih sayang menurut syariah Islam, tentu saja Islam merupakan
‘gudang’ nya kasih sayang. Tidak sebatas pada orang-orang terkasih saja, bahkan
kasih sayang kepada semua orang. Bahkan hewan pun termasuk yang mendapatkan
kasih sayang.
Cinta kepada Kekasih
Kasih sayang kepada orang terkasih pun ada
di dalam Islam, bahkan menyayangi pasangan kita dinilai sebagai ibadah. Ketika
seorang wanita memberikan seluruh cintanya kepada laki-laki yang dicintainya,
maka Allah pun mencurahkan kasih sayang-Nya kepada wanita itu. Hal yang sama
berlaku sebaliknya.
Namun kasih sayang antara dua insan di
dalam Islam hanya terjadi dan dibenarkan dalam ikatan yang kuat. Di mana
laki-laki telah berjanji di depan 2 orang saksi. Janji itu bukan diucapkan
kepada si wanita semata, melainkan juga kepada orang yang
palingbertanggung-jawab atas diri wanita itu, yaitu sang ayah. Ikatan ini telah
menjadikan pasangan laki dan wanita ini sebagai sebuah keluarga. Sebuah ikatan
suami istri.
Adapun bila belum ada ikatan, maka akan
sia-sia sajalah curahan rasa kasih sayang itu. Sebab salah satu pihak atau
malah dua-duanya sangat punya kemungkinan besar untuk mengkhianati cinta
mereka. Pasangan mesra di luar nikah tidak lain hanyalah cinta sesaat, bahkan
bukan cinta melainkan birahi dan libido semata, namun berkedok kata cinta.
Dan Islam tidak kenal cinta di luar nikah,
karena esensinya hanya cinta palsu, cinta yang tidak terkait dengan konsekuensi
dan tanggung-jawab, cinta murahan dan -sejujurnya- tidak berhak menyandang kata
cinta.
Cinta kepada Sesama
Di luar cinta kepada pasangan hidup,
sesungguhnya masih banyak bentuk kasih sayang Islam kepada sesama manusia.
Antara lain bahwa Islam melarang manusia saling berbunuhan, menyakiti orang
lain, bergunjing, mengadu domba atau pun sekedar mengambil harta orang lain
dengan cara yang batil.
Bandingkan dengan peradaban barat yang
sampai hari duduk di kursi terdepat sebagai jagal yang telah membunuh berjuta
nyawa manusia. Bukankah suku Indian di benua Amerika nyaris punah ditembaki
hidup-hidup? Bukankah suku Aborigin di benua Australia pun sama nasibnya?
Membunuh satu nyawa di dalam Islam sama
saja membunuh semua manusia. Bandingkan dengan jutaan nyawa melayang akibat
perang dunia I dan II. Silahkan hitung sendiri berapa nyawa manusia melayang
begitu saja akibat ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki?
Silahkan buka lembaran sejarah, siapakah
yang dengan bangga bercerita kepada anak cucunya bahwa nenek moyang mereka
berhasil membanjiri masjid Al Aqsha dengan genangan darah muslimin, sehingga
banjir darah di masjid itu sebatas lutut kuda?
Di awal tahun 90-an, kita masih ingat
bagaimana Serbia telah menyembelih umat Islam di Bosnia, anak-anak mati
ditembaki. Bahkan janin bayi di dalam perut ibunya dikeluarkan dengan paksa dan
dijadikan bola tendang. Bayangkan, kebiadaban apa lagi yang bisa menandinginya?
Sesungguhnya peradaban barat itu
bertqanggung jawab atas semua ini. Tangan mereka kotor dengan darah manusia,
korban nafsu angkara murka.
Kasih sayang yang sesungguhnya hanya ada
di dalam Islam. Sebuah agama yang terbukti secara pasti telah berhasil menjamin
keamanan Palestina selama 14 abad lamanya. Di mana tiga agama besar dunia bisa
hidup akur, rukun dan damai. Palestina baru kembali ke pergolakannya justru
setelah kaum yahudi menjajahnya di tahun 1948.
Bahkan gereja Eropa di masa kegelapan (Dark
Ages) pun tidak bisa melepaskan diri dari cipratan darah manusia, ketika
mereka mengeksekusi para ilmuwan yang dianggap menentang doktrin gereja.
Tanyakan kepadaGalileo Galilei, juga kepada Copernicus, apa yang dilakukan
geraja kepada mereka? Apa yang menyebabkan kematian mereka? Atas dosa apa
keduanya harus dieksekusi? Keduanya mati lantaran mengungkapkan kebenaran ilmu
pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuandianggap tidak sesuai dengan kebohongan
gereja.
Kalau kepada ilmuwan gereja merasa berhak
untuk membunuhnya, apatah lagi dengan orang kebanyakan. Lihatlah bagaimana
pemuda Eropa dikerahkan untuk sebuah perang sia-sia ke negeri Islam, perang
salib. Lihatlah bagaimana nyawa para pemuda itu mati konyol, karena dibohongi
untuk mendapatkan surat pengampunan dosa, bila mau merebut Al Aqsha.
Sejarah kedua agama itu, berikut sejarah
Eropa di masa lalu kelam dan bau anyir darah. Sejarah hitam nan legam…
Bandingkan dengan sejarah Islam, di mana
anak-anak bermain dengan bebas di taman-taman kota, meski orang tua mereka lain
agama. Bandingkan dengan sejarah perluasan masjid di Mesir yang tidak berdaya
lantaran tetangga masjid yang bukan muslim keberatan tanahnya digusur.
Bandingkan dengan pengembalian uang jizyah kepada pemeluk agama Nasrani oleh
panglima Abu Ubaidah Ibnul Jarah, lantaran merasa tidak sanggup menjamin
keamanan negeri.
Siapakah yang menampung pengungsi Yahudi
ketika diusir dari Spanyol oleh rejim Kristen? Tidak ada satu pun negara yang
mau menampung pelarian Yahudi saat itu, kecuali khilafah Turki Utsmani. Sebab
meski tidak seagama, Islam selalu memandang pemeluk agama lain sebagai manusia
juga. Mereka harus dilindungi, diberi hak-haknya, diberi makan, pakaian dan
tempat tinggal layak. Syaratnya hanya satu, jangan perangi umat Islam. Dan itu
adalah syarat yang teramat mudah.
Maka kalau kita bicara cinta dan kasih
sayang, Islam lah bukti nyatanya.
Sejarah Valentine
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah
dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama
Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara
ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi
agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity,
menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada
ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini
menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk
menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World
Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan
yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan
keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu
berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal
dari ritual Romawi kuno.
Sementara di dalam tatanan aqidah Islam,
seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik
agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku
tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang
Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu
agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal,
sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah
ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun
mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal
bersama.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang
haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap
berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan
valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan
semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam
diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should
Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal
dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha
Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta
orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang
menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar,
menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada
berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the
hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan
sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam
mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan
dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan
aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut
dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak
lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan
membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang
ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat
terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa
Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang
ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana
seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara
legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada
semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti
berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan
seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya,
semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang
merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis
dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa
hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah
zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan
zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya
sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu
bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan
hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami
distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah
penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan
seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang
juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini
bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk
pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang
dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak
untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di
barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah sybhanahu wa ta’ala
berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan
sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina;
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang
buruk. (QS Al
Isra’: 32)
Kasih Sayang Menurut Islam
Di dalam Islam tidak ada Valentine, sebab
kata Valentine itu merupakan istilah impor dari agama di luar Islam. Bahkan
latar belakang sejarah dan esensinya pun tidak sejalan dengan Islam.
Namun kalau yang anda inginkan adalah
perwujudan rasa kasih sayang menurut syariah Islam, tentu saja Islam merupakan
‘gudang’ nya kasih sayang. Tidak sebatas pada orang-orang terkasih saja, bahkan
kasih sayang kepada semua orang. Bahkan hewan pun termasuk yang mendapatkan
kasih sayang.
Cinta kepada Kekasih
Kasih sayang kepada orang terkasih pun ada
di dalam Islam, bahkan menyayangi pasangan kita dinilai sebagai ibadah. Ketika
seorang wanita memberikan seluruh cintanya kepada laki-laki yang dicintainya,
maka Allah pun mencurahkan kasih sayang-Nya kepada wanita itu. Hal yang sama
berlaku sebaliknya.
Namun kasih sayang antara dua insan di
dalam Islam hanya terjadi dan dibenarkan dalam ikatan yang kuat. Di mana
laki-laki telah berjanji di depan 2 orang saksi. Janji itu bukan diucapkan
kepada si wanita semata, melainkan juga kepada orang yang
palingbertanggung-jawab atas diri wanita itu, yaitu sang ayah. Ikatan ini telah
menjadikan pasangan laki dan wanita ini sebagai sebuah keluarga. Sebuah ikatan
suami istri.
Adapun bila belum ada ikatan, maka akan
sia-sia sajalah curahan rasa kasih sayang itu. Sebab salah satu pihak atau
malah dua-duanya sangat punya kemungkinan besar untuk mengkhianati cinta
mereka. Pasangan mesra di luar nikah tidak lain hanyalah cinta sesaat, bahkan
bukan cinta melainkan birahi dan libido semata, namun berkedok kata cinta.
Dan Islam tidak kenal cinta di luar nikah,
karena esensinya hanya cinta palsu, cinta yang tidak terkait dengan konsekuensi
dan tanggung-jawab, cinta murahan dan -sejujurnya- tidak berhak menyandang kata
cinta.
Cinta kepada Sesama
Di luar cinta kepada pasangan hidup,
sesungguhnya masih banyak bentuk kasih sayang Islam kepada sesama manusia.
Antara lain bahwa Islam melarang manusia saling berbunuhan, menyakiti orang
lain, bergunjing, mengadu domba atau pun sekedar mengambil harta orang lain
dengan cara yang batil.
Bandingkan dengan peradaban barat yang
sampai hari duduk di kursi terdepat sebagai jagal yang telah membunuh berjuta
nyawa manusia. Bukankah suku Indian di benua Amerika nyaris punah ditembaki
hidup-hidup? Bukankah suku Aborigin di benua Australia pun sama nasibnya?
Membunuh satu nyawa di dalam Islam sama
saja membunuh semua manusia. Bandingkan dengan jutaan nyawa melayang akibat
perang dunia I dan II. Silahkan hitung sendiri berapa nyawa manusia melayang
begitu saja akibat ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki?
Silahkan buka lembaran sejarah, siapakah
yang dengan bangga bercerita kepada anak cucunya bahwa nenek moyang mereka
berhasil membanjiri masjid Al Aqsha dengan genangan darah muslimin, sehingga
banjir darah di masjid itu sebatas lutut kuda?
Di awal tahun 90-an, kita masih ingat
bagaimana Serbia telah menyembelih umat Islam di Bosnia, anak-anak mati
ditembaki. Bahkan janin bayi di dalam perut ibunya dikeluarkan dengan paksa dan
dijadikan bola tendang. Bayangkan, kebiadaban apa lagi yang bisa menandinginya?
Sesungguhnya peradaban barat itu
bertqanggung jawab atas semua ini. Tangan mereka kotor dengan darah manusia,
korban nafsu angkara murka.
Kasih sayang yang sesungguhnya hanya ada
di dalam Islam. Sebuah agama yang terbukti secara pasti telah berhasil menjamin
keamanan Palestina selama 14 abad lamanya. Di mana tiga agama besar dunia bisa
hidup akur, rukun dan damai. Palestina baru kembali ke pergolakannya justru
setelah kaum yahudi menjajahnya di tahun 1948.
Bahkan gereja Eropa di masa kegelapan (Dark
Ages) pun tidak bisa melepaskan diri dari cipratan darah manusia, ketika
mereka mengeksekusi para ilmuwan yang dianggap menentang doktrin gereja.
Tanyakan kepadaGalileo Galilei, juga kepada Copernicus, apa yang dilakukan
geraja kepada mereka? Apa yang menyebabkan kematian mereka? Atas dosa apa
keduanya harus dieksekusi? Keduanya mati lantaran mengungkapkan kebenaran ilmu
pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuandianggap tidak sesuai dengan kebohongan
gereja.
Kalau kepada ilmuwan gereja merasa berhak
untuk membunuhnya, apatah lagi dengan orang kebanyakan. Lihatlah bagaimana
pemuda Eropa dikerahkan untuk sebuah perang sia-sia ke negeri Islam, perang
salib. Lihatlah bagaimana nyawa para pemuda itu mati konyol, karena dibohongi
untuk mendapatkan surat pengampunan dosa, bila mau merebut Al Aqsha.
Sejarah kedua agama itu, berikut sejarah
Eropa di masa lalu kelam dan bau anyir darah. Sejarah hitam nan legam…
Bandingkan dengan sejarah Islam, di mana
anak-anak bermain dengan bebas di taman-taman kota, meski orang tua mereka lain
agama. Bandingkan dengan sejarah perluasan masjid di Mesir yang tidak berdaya
lantaran tetangga masjid yang bukan muslim keberatan tanahnya digusur.
Bandingkan dengan pengembalian uang jizyah kepada pemeluk agama Nasrani oleh
panglima Abu Ubaidah Ibnul Jarah, lantaran merasa tidak sanggup menjamin
keamanan negeri.
Siapakah yang menampung pengungsi Yahudi
ketika diusir dari Spanyol oleh rejim Kristen? Tidak ada satu pun negara yang
mau menampung pelarian Yahudi saat itu, kecuali khilafah Turki Utsmani. Sebab
meski tidak seagama, Islam selalu memandang pemeluk agama lain sebagai manusia
juga. Mereka harus dilindungi, diberi hak-haknya, diberi makan, pakaian dan
tempat tinggal layak. Syaratnya hanya satu, jangan perangi umat Islam. Dan itu
adalah syarat yang teramat mudah.
Maka kalau kita bicara cinta dan kasih
sayang, Islam lah bukti nyatanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar